Rabu, 16 Juni 2010

Mengamankan ATM


O Husen Arifin

Negeri kita kembali digegerkan oleh pencurian uang lewat ATM atau Anjungan Tunai Mandiri. Banyak nasabah yang ATM-nya dibobol, mulai dari Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI, dan Permata Bank. Sindikat itu tersebar luas di beberapa kota, mulai dari Bali, Jakarta, Surabaya dan Balikpapan.

Kita jadi resah, jangan-jangan ATM kita juga dibobol. Dunia perbankan mulai terancam eksistensinya. Saya mengajak teman-teman waspada terhadap ATM kita. Usahakanlah kita selalu mengganti digit rahasia atau pin ATM kita agar tidak gampang dikelabuhi. Perhatikan sekeliling tempat ATM, biasanya ada kamera pengintai. Carilah tempat ATM yang dijaga petugas keamanan yang integritasnya tinggi. Jangan mudah terbuai iming-iming berkedok undian berhadiah dan meminta mentransfer uang lewat ATM.

Dahulukan keselamatan uang kita jika tidak ingin depresi. Penarikan uang dari ATM bukan untuk menunjukkan kemewahan melainkan agar kebutuhan uang tunai bisa mudah. Sehabis pencurian uang massal di ATM, kita tidak boleh lengah sekalipun harus membayar kartu kredit. Periksakanlah kartu ATM terlebih dahulu sebelum atau sesudah bertransaksi. Maraknya pencurian uang tersebut dikarenakan kita kurang menjaga sistem keamanan tempat ATM.

Sebagai mahasiswa, kita sudah seharusnya berjaga-jaga terhadap tingkah laku mencurigakan di dalam ATM. Uang di ATM harus dijaga dengan baik-baik agar tidak jadi sasaran pembobol uang. Kewaspadaan ini beralasan untuk kita, karena lebih dari 200 orang kehilangan uangnya secara cepat lewat ATM di pertengahan januari 2010.

Dengan demikian, kita tidak lagi mengabaikan sedikit pun tingkah laku pencuri, meskipun kita tidak mengetahui orang mana yang menjadi pelaku, minimal kita telah melakukan tindakan yang benar demi menyelematkan nasib uang kita untuk tabungan masa depan. Harapan kita semoga keamanan di tempat ATM ditingkatkan, untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan. Semoga pelakunya segera ditangkap semua dan dipenjarakan sesuai peraturan. (*)

sumber; http://www.surya.co.id/2010/02/18/mengamankan-atm.html

Motivasi Dahsyat Mengguncang Dunia


Judul Buku : 700 Motivasi Dahsyat Pengguncang Dunia!

Penulis : Ida Prastiowati

Penerbit : Pustaka Grhatama

Cetakan : I, 2009

Tebal : 136 Halaman


Semakin kritis krisis global yang dirasakan masyarakat Indonesia. Sampai menganggap mereka hidup di dunia ini yang penting berkecukupan. Sampai apatis terhadap hidup sukses dan menginginkan hidup di dunia selalu instan praktis.

Tidak peduli apa tujuannya buat masa depan. Tidak ada motivasi yang membuat mereka tergugah dan bangun dari kemiskinan. Faktanya, mayoritas masyarakat Indonesia mengalami kemiskinan yang kompleks. Miskin rohani, miskin finansial, miskin mental, miskin emosional. Kurangnya motivasi itulah yang membawa mereka ke jurang kemiskinan.

Padahal lahirnya negara Indonesia berawal dari sebuah motivasi. Motivasi Bung Karno, Tokoh Proklamator Indonesia pertama kali membaca teks proklamasi Indonesia yang meinginginkan merdeka. Bebas dari penjajahan Belanda selama 350 tahun. Mendirikan negara yang berdaulat. Dan pengalaman orang-orang dari segala abad membuktikan bahwa memiliki motivasi hidup sangat penting.

Thomas Alva Edison, menciptakan lampu setelah melakukan percobaan yang ke-seribu kali. Dia pantang menyerah, ia menilai kelemahan terbesar kita terletak pada menyerah. Jalan paling pasti untuk sukses adalah selalu mencoba sekali lagi.

Seperti Ary Ginanjar Agustian, Sang Maestro Motivator ESQ Leadership Indonesia yang melahirkan ratusan bahkan ribuan manusia-manusia Indonesia berkualitas. Tentunya bermula dari motivasi.

Buku 700 Motivasi Dahsyat Pengguncang Dunia karya Ida Prastiowati membincang kembali pentingnya sebuah motivasi. Saripati buah pemikiran para orang-orang hebat terkumpul jadi satu. Ida Prastiowati mengajak kita untuk bersaksi bahwa para pengguncang dunia dahulunya juga memiliki motivasi.

Dari lembaran pertama, Ida Prastiowati menyuguhkan saripati motivasi-motivasi sang Penakluk Dunia, ada Walter Bailey menuturkan “kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah mengerjakan sesuatu yang kata orang-orang tak bisa kita kerjakan.” Juga ada Pearl Bailey, Kahlil Gibran, Virginia Wolf, Friedrich Nietzsche, Malcolm Bane.

Di lembar berikutnya, motivasi dari sang Penggerak Hidup. Yaitu kehidupan orang-orang dengan kualitas tinggi. Sang penggerak hidup itu antara lain, Robert Forst, Neale Donald Walsch, Jan Amos Comenius, Henry Ford, Harding Lawrence, Thomas Alva Edison. Dale Carnegie mengatakan Anda tak akan meraih sukses jika tidak mencintai apa yang Anda kerjakan.

Napoleon Bonaparte, adalah salah satu seorang Penggugah Energi bagi kehidupan di dunia ini, dengan tegasnya berkata “Orang-orang yang mengubah dunia tak pernah melakukan dengan mengubah petugas, tapi selalu mengilhami orang-orang.” Whitney Young, Jr, Charles Darwin, Henry Truman, Helen Keller. Mereka-mereka yang memenangkan kehidupan dengan mengatasi hambatan, energinya hanya untuk meraih sesuatu yang indah.

Setelahnya, kita butuh mentor Penginspirasi Hidup. Karena inspirasi adalah harga mahal kehidupan. Telah banyak di dunia ini penuh dengan gelandangan berpendidikan tapi tak bisa jadi inspirator. Calvin Coolidge justru menginspirasi kita untuk tetap maju, ketekunan dan kebulatan tekad adalah kekuatan yang sangat dahsyat, dan terus bisa menyelesaikan masalah.

Maka, O.A. Battista menambahkan tak ada jalan yang lebih pasti untuk menemukan keberuntungan selain dengan menyingsingkan lengan baju. Para penginspirasi hidup di antaranya Bunda Teresa, Emanuel Swedenborg, Napoleon Hill, Louis Pasteur, Winston Churcill, T.S. Elliot, Theodore Roosevelt.

Begitu kita mendapatkan Inspirator hidup maka kita cari pengikat harapan. Pengikat harapan yang mampu meneguhkan motivasi. Seperti Benjamin Franklin, Charles Kingsley, William James, Lao-Tse, George Santayana. Dan kita hidup pada masa kini, kita bermimpi tentang masa depan, tapi kita belajar kebenaran abadi di masa lalu. Itulah pengikat harapan dari Madame Chiang Kai-Sek.

Memelihara hidup haruslah ada penempa mental. Mental kesuksesan dibangun dari pondasi impian dan motivasi. Belajar dari Dr. Hamka dengan menuturkan terus terang adalah sifat kestaria, tetapi berani surut dari yang salah dan berani mengakui lebih kesatria. Sikap mental kesatria perlu kita tumbuhkan. Karena menurut Rumi dalam “Chicken Soup for the Teenage Soul” bahwasanya kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak menjalani hidup?

Sub-sub bab buku ini menarik dan bergizi. Ratusan motivasi menjadi menu kehidupan kita sehari-hari. Kita akan kaya lewat perubahan. Kita mampu menghancurkan ketakutan. Jadi, buku ini bukan hanya sekedar pengubah dan penggerak tapi pengguncang dunia.

Bukan pemanis kehidupan juga bukan pelicin masa depan tapi sebagai pendobrak peradaban kesuksesan. Kita menjadi kaya rohani, kaya finansial, kaya mental, kaya emosional. Setelah kita membaca buku ini, kita memiliki motivasi sukses layaknya pemenang puzzle kehidupan.

Lewat ide brillian Ida Prastiowati, buku ini sangat bermanfaat dan baik bagi pembaca dan bagi siapa saja yang ingin mengguncang dunia dengan kesuksesan. Maka tak ada orang-orang sukses yang tak memiliki motivasi di kehidupannya. Selamat membaca! []

resensi ini dipublikasikan di Koran Duta Masyarakat (termasuk resensi sebelumnya)

Perempuan Joget Hutan

Gong! Gong! Gong!

Perempuan-perempuan ayu menari anggun di tengah petak pasar malam. Perempuan-perempuan itu begitu gemulai tubuhnya. Ketipak kakinya tak terdengar kasar, meski terkadang dihentakkan di lantai. Mereka berada dalam posisi yang bagus. Harum kemenyan menebar semerbak di sekitar arena.

Para penonton memadati pasar malam. Mereka datang di malam yang ranum. Mata mereka nyalang tak merasa kantuk. Desa itu tiba-tiba saja dihinggapi rasa haus akan hiburan. Permainan Joget Hutan telah memecah kebosanan warga desa pada suasana malam yang selalu hening dan sunyi. Pasang mata para penonton khusyuk memandangi tarian elok nan indah para perempuan yang dihiasi selendang warna-warni.

Tingkah suara gendang yang mendayu-dayu dan diiringi lagu dendang Melayu Tanjung Katung1 mulai terasa akrab di telinga para penonton.

Seorang pawang atau kemantan maju ke arena dengan mendaki tangga kecil sembari mulutnya komat-kamit membaca mantra-mantra dan mendongak ke langit sesekali. Sang pawang melepas selendang masing-masing perempuan, dari mulutnya keluar air liur dan ditadahnya dengan selendang itu, kemudian ia memasangkannya kembali kepada masing-masing perempuan Joget Hutan. Pada langkahnya yang terakhir ia memecut pantat para perempuan bergantian. Para penonton menganga tak tahu maksud yang dilakukan oleh sang pawang. Suara tetabuhan gong mengelilingi arena begitu nyaring.

Gong! Gong! Gong!

Sang pawang meninggalkan arena. Para perempuan mulai tampil dengan matang. Gemulai tubuhnya mulai menari dengan memadukan suara gendang yang bertalu semakin kencang, juga lagu yang dibawa oleh biduan cantik membawa para penonton mengikuti irama dengan berjoget bersama. Joget Hutan di pasar malam itu menjadi sorotan para penonton. Tempat itu cukup padat. Irama yang menghiasinya seakan telah menciptakan suasana decak kagum di hati penonton. Inoi, salah satu dari perempuan Joget Hutan yang hadir bergoyang di tengah arena itu, kini menjadi sorotan penonton.

Mula-mula gerakan tarian Inoi begitu kaku, meski gerakan tarian yang dibawa para perempuan Joget Hutan sedari tadi begitu seragam dan serempak. Goyangan tubuh, arah, lenggak-lenggok, serta tempo kaki mereka seragam dan tertata rapi. Tapi lama-lama mereka tidak kompak dan tidak seragam. Sedikit demi sedikit tarian mereka menjadi sendiri-sendiri, sedang para penonton mulai mengarahkan matanya lekat ke tubuh perempuan muda berselendang biru itu. Penonton tahu bahwa gerakan tubuh, wajah dan tangan lentik Inoi semakin ndadi alias kesurupan. Inoi menari dengan tarian Mayang Di Umbut2. Tarian itu bukan sembarang tarian, sebab Inoi menarikan tarian itu dengan bantuan roh gaib. Sehingga, Inoi menarikannya berbeda dengan perempuan yang lain, dan dengan sendiri tubuh Inoi mengikuti irama tabuhan gendang gong. Mata Inoi memerah. Bau kemenyan semakin merebak, menusuk-nusuk hidung penonton. Penonton terpana dengan tarian Inoi. Tetabuhan gong dan beberapa gamelan lainnya menjelma riuh menembus kagum para penonton.

Apakah itu anakmu, Mak?” tanya seorang lelaki dengan menunjuk telunjuk kanan ke arah Inoi.

Emak tersenyum malu, meski Emak sedikit sadar bahwa sekarang anaknya telah menjadi barang berharga yang dipertontonkan. Di sekeliling lelaki itu, beberapa penonton mengangguk dan sepertinya menggelengkan kepala beberapa saat.

Seandainya ia anakku, mungkin aku sudah memiliki uang banyak dan cepat kaya,” seru lelaki lain sembari melirik ke wajah Emak yang mulai murung, kelu.

Tapi, Emak juga tersenyum sebentar. Ia mengerti, ia salah bila harus menonton anaknya di arena yang penuh gaduh ini, padahal ia tak sengaja melihat pentas demikian. Ini adalah sebuah kebetulan. Emak tak tahu harus bagaimana, sudah sekitar sembilan bulan Inoi bergabung dengan grup Joget Hutan di desanya. Joget Hutan telah melambungkan namanya. Inoi dikenal dengan goyangan dan liukan tubuh manisnya.

Gong! Gong! Gong!

Daripada ganggur, Mak!” ujar Inoi pelan.

Membantu Emak kan bisa, atau bermain dengan teman sebayamu,” jawab Emak pelan juga.

Tidak enak, Mak!”

Jadi perempuan Joget Hutan, berbahaya, anakku! Dapat merusak nama keluarga kita. Setiap hari Emak selalu mendengar omongan yang jelek-jelek saja tentangmu.”

Biarkanlah mereka, Mak! Memang hidup di zaman yang serba susah selalu salah. Jika Inoi harus bermain terus dengan teman-teman, kapan Inoi akan masuk sekolah lagi?” tutur Inoi yang berangan ingin masuk sekolah kembali.

Tujuan hidup Inoi terhenti ketika ia harus menderita penyakit kronis. Tapi dokter tidak menceritakannya terus terang kepada Inoi, melainkan hanya kepada emak dan bapaknya. Sehingga keesokan harinya, bapak Inoi memutuskan bahwa Inoi tidak boleh masuk sekolah dan harus berhenti sekolah seketika itu juga.

Inoi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia patuh pada keputusan bapaknya, menerima pasrah semua yang diputuskannya. Walaupun tangis Inoi hendak membuncah, Inoi tetap patuh tunduk pada bapaknya.

Inoi terbayang pada masa kecilnya dahulu. Ia begitu semangat ingin masuk sekolah. Ia merengek-rengek nangis bila tidak langsung sekolah. Bapak dan emak Inoi menyetujuinya untuk menyekolahkan Inoi ke sekolah dasar. Inoi pun selalu mendapatkan nilai terbaik dan selalu berada di peringkat pertama. Bapak dan emaknya bangga, hingga bapaknya berjanji akan menaruh Inoi pada sekolah yang lebih tinggi lagi setelah lulus sekolah dasar nanti.

Inoi bahagia. Tawanya merekah dan Inoi memeluk bapak dan emaknya bergantian. Secuil bahagia mengekal di kalbu emak Inoi, dan semakin tak terbendung tangisnya. Terharu.

Setelah malam mingguan, terkadang di sekolah, teman-teman Inoi ada yang bercerita tentang pentas kesenian panggung bangsawan yang mementaskan lakon Lancang Kuning, yaitu sebuah lakon sejarah yang paling populer di kota Bengkalis, Riau. Juga ada yang bercerita tentang lincahnya penari tarian Zapin3 yang menarikan zapin anak ayam patah.

Mulai besok, Inoi tidak boleh lagi masuk sekolah!” tegas bapaknya di hadapan Inoi.

Kenapa Pak?” Tanya heran Inoi yang menunduk sedih.

Karena Bapak memintamu untuk berhenti sekolah. Ingat! Bapak sudah mendapatkan surat keputusan pemberhentian kamu dari sekolah,” seru bapaknya sembari menaruh SK pemberhentian sekolah Inoi di meja. Inoi termenung, diam. Pasrah.

Gong! Gong! Gong!

Tak ada yang tahu ke mana arah angin akan berhembus. Di tengah arena, para perempuan mengipas-ngipas wajahnya dengan selendangnya sendiri-sendiri. Peluh mereka mengucur deras, sedang malam menemani bintang yang mengerlip terang. Inoi mendekati sang pawang. Sang pawang memberi kemenyan di pelupuk kepalanya. Tangan sang pawang memukul tubuh Inoi beberapa kali dengan mayang juga bunga pohon pinang. Inoi tersentak dan kejang-kejang sebentar. Inoi kembali ke tengah arena. Matanya memerah padam. Goyangan tubuhnya menggila, semakin erotis hingga jantung lelaki berdetak lebih cepat. Berdebar-debar.

Tiba-tiba ada lelaki berkumis memasuki arena, perut buncitnya bergoyang, badannya sempoyongan sepertinya ia mabuk berat sehabis menenggak minuman keras. Langkahnya tersaruk-saruk mendekati gemulai tubuh Inoi. Dengan sekejap, lelaki itu berada di depan Inoi. Ia menari seadanya, membelai-belai tubuh Inoi. Tetapi Inoi juga bergairah meraba-raba tubuh lelaki itu.

Gong! Gong! Gong!

Mak! Anakmu melakukan sesuatu yang tidak wajar,” cibir salah satu penonton di dekat Emak. Emak malahan menutup muka tak ingin melihat tingkah anaknya.

Inoi meliuk-liukkan tubuhnya ke tubuh lelaki itu, namun di balik senyumnya yang merekah, Inoi menggenggam sebilah pisau runcing di tangan yang diselipkan di balik bajunya. Sedetik kemudian, Inoi mengayunkannya ke arah perut buncit lelaki itu. Suara erangan mendesau parau. Darah segar merembes di arena.

Malam semakin mencekam, penonton banyak menjerit ngeri. Petugas pun datang segera menolong lelaki itu yang mengerang kesakitan. Inoi menjilati darah segar si lelaki di sekitar pisau runcingnya. Tangannya juga penuh dengan darah. Inoi meneguk darah itu. Benar. Inoi telah meminum darah segar itu.

Emak belum sempat menyaksikan tingkah Inoi, tapi di hatinya terasa perih. Lelaki yang hendak dibunuh Inoi itu ternyata tetangga dekat Inoi sendiri. Emak merasa telah menelantarkan diri Inoi sebagai anak yang dicintainya, tapi kini Inoi telah berubah menjadi perempuan penari yang dibayar dengan sesajen dan mantra-mantra hingga menjelma seketika di arena.

Rasa perih hati Emak semakin menggumpal saat Inoi meneguk darah segar manusia yang disodorkan sang kemantan itu. Emak menangis ringkih. Rasa kasihan pada anaknya menyeruak. Ruas pojok mata Emak menjadi basah. Emak berusaha keras menahan airmatanya hingga dadanya saja yang pecah.

Andaikata kamu masih sekolah, mungkin tidak seperti ini, anakku,” tutur Emak terbata.

Malam kian ramai dengan permainan Joget Hutan. Anak-anak, pemuda yang menonton saat itu mulai binger ingin lama-lama di pasar malam. Tiba-tiba Emak teringat pada saat suaminya memberhentikan Inoi dari sekolah dasar, padahal keinginan Inoi begitu tinggi untuk selalu sekolah karena kehidupan keluarganya saat itu cukup untuk membiayai sekolah Inoi. Tapi waktu berbicara lain. Suaminya memberhentikan Inoi dengan paksa, setelah dokter memvonis Inoi mempunyai penyakit kronis.

Anak Bapak menderita penyakit langka dan kedokteran rumah sakit di sini tidak sanggup mengobatinya, melainkan harus pindah ke rumah sakit lain dan itu membutuhkan biaya besar!” terang dokter kepada bapak Inoi.

Dok, saya enggak ingin jika anak saya harus berhenti sekolah cuma karena penyakit yang dideritanya. Apakah Dokter tidak bisa menyembuhkannya?” bapak Inoi tidak percaya pada keterangan dokter tersebut. Si dokter menggelengkan kepala. Bapak Inoi pun seperti itu. Segala usaha telah dilakukan bapak dan emak Inoi untuk menyembuhkan penyakit Inoi dengan selalu pergi dan pindah-pindah rumah sakit, namun hasilnya nihil. Emak Inoi mulai meneteskan airmatanya tiap malam. Memandangi anaknya yang ayu sedang pulas tertidur di kamar. Begitu berat perasaan Emak memanggul kekalutan pada keluarganya.

Tak lama meniti hari dengan kabut, suaminya dipanggil Tuhan selama-lamanya lebih cepat dari dugaan. Padahal, suaminya masih terlalu muda. Inoi pun harus hidup dengan memikul tanggungjawab yang berat karena sulitnya mencari nafkah untuk keluarga. Akibatnya, Inoi tidak bisa sekolah lagi. Hingga pada senja yang menjorok ke barat, matahari belum sepenuhnya tenggelam, Emak menandatangani kontrak penjualan perempuan seusia Inoi kepada seorang lelaki tambun yang mengaku utusan negara berkedok mencari bakat semisal emansipasi Kartini. Emak Inoi hanya manggut-manggut sembari tersenyum, berbunga hatinya mendapatkan uang banyak dengan hanya tanda tangan pada secarik kertas. Tetapi, kebahagiaan itu hanya sementara, pada waktu yang sama, dokter itu asyik menghitung uang setelah memanipulasi semua keterangan tentang penyakit Inoi.

Gong! Gong! Gong!

Kini Inoi menjadi penari sekaligus perempuan Joget Hutan yang diidamkan setiap lelaki. Menurut cerita rakyat di desa, perempuan Joget Hutan sebenarnya berasal dari suku asli yang populer dengan sebutan suku terasing dan pemusiknya, pemukul gong, arkoden, biola, gitar, gendang, dan bas besar berasal dari tempat terpencil yang tradisional pula. Suku terasing yang memang asli tinggal di perkampungan pinggir hutan.

Dan sekarang Inoi bukan perempuan yang dapat merasakan indahnya sekolah, tetapi Inoi adalah perempuan yang menari di arena. Inoi telah dewasa dan terdaftar sebagai penari Joget Hutan berbakat di desanya.

Sementara itu, di pasar malam suasana mulai kacau. Mata para penonton miris melihat Inoi di atas arena tanpa busana hanya celana rumbai yang dipakainya dan selendang biru yang masih melekat di tubuhnya sembari bersenandung lagu joget. Sang kemantan menghampirinya dengan menyodorkan bangkai-bangkai hewan sebagai sesajen penutup sebelum bubar pasar malam. Inoi terlihat lahap memakan bangkai-bangkai itu. Emak Inoi menangis miris di antara himpitan para penonton yang memadati pasar malam. Tak ada yang mendengar erangnya. Tak ada orang yang peduli akan tangisnya.

Gong! Gong! Gong!

Suara itu menyilet ketenangan malam. Bintang-gemintang meredup. Bulan enggan muncul. Gerimis membasahi ruas pasar malam. Permainan Joget Hutan telah menorehkan luka yang dalam di hati Emak.


Sanggar, 17 Juni 2006


Catatan:


Salah satu dendang Melayu yang populer dalam adat Betawi

2Tarian khas di Bengkalis, Riau, dilakukan dengan bantuan roh halus sebagai perantara

3Tarian khas di Bengkalis, Riau, dipentaskan di pagelaran kebudayaan atau kesenian daerah

Gaya Belajar Quantum Learner


Judul Buku : Quantum Learner, Fokuskan Energimu. Dapatkan Yang Kamu Inginkan

Penulis : Bobby DePorter

Penerbit : Kaifa, Bandung

Cetakan : I, April 2009

Tebal : 101 Halaman


Pernahkah kamu mengalami masa di mana semua tampaknya tak terjadi seperti yang kamu inginkan di sekolah atau di kehidupanmu? Tak peduli seberapa keras kamu belajar, kamu tak bisa mendapat nilai lebih baik dalam ulangan? Kamu ingin lebih dihargai oleh teman, orangtua atau guru, tapi kamu tak tahu bagaimana caranya?
Mungkin juga ketika menghadapi Ujian Nasional dan kamu belum memiliki persiapan untuk menghadapi Ujian Nasional. Padahal dengan Ujian Nasinal nanti kamu akan mengetahui sejauh mana tingkat penyerapan dan pemahamanmu terhadap pelajaran dan mendapat nilai yang memuaskan.
Atau kamu sudah belajar keras tapi ketika sudah mendekati Ujian Nasional kamu merasa kesulitan, was-was dan bimbang. Ini yang sering terjadi, masalahnya adalah kamu memakai cara belajar yang salah.
Sebenarnya bagaimana cara belajar dan tips memfokuskan totalitas energi untuk belajar merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk diajarkan. Dengan belajar nantinya kita merasakan bagaimana mengubah perasaan, berpikir tentang sesuatu, melakukan sesuatu secara berbeda. Memahami alam, memecahkan masalah kehidupan. Itulah hakikat pembelajaran.
Di buku Quantum Learner, Fokuskan Energimu. Dapatkan Yang Kamu Inginkan karya Bobbi DePorter sangat setuju kalau memandang setiap siapapun dirinya memiliki hak sebagai orang sukses, bisa mengubah ribuan kesempatan menjadi sebuah pembelajaran dan mewujudkannya menjadi pengalaman yang sukses.
Dengan melakukan cara pembelajaran yang diajarkan di dalam buku ini, kita akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar luarbiasa. Dimana sebagai Quantum Learner, nantinya kita bisa belajar mengendalikan hasilnya agar sesuai dengan keinginan kita sejak awal. Belajar yang menghasilkan.
Di awal buku ini memang kita mulai diarahkan untuk meningkatkan hasil dan mengharapkan sesuatu yang terbaik. Kemauan meninggalkan zona kenyamanan atau comfort zone. Mulai memfokuskan diri untuk meraihnya. Dan untuk mewujudkannya perlu ada kesungguhan dalam diri. Perasaan, pikiran terkumpul menyatu.
Karena seorang Quantum Learner senang belajar, mengambil resiko demi melakukan sesuatu yang menjadi impiannya. Menggambarkan impiannya. Visualisasi di buku. Dari cara membuat perubahan adalah mematuhi SKK (Sikap, Keyakinan, Konsentrasi). Sikap berkaitan erat dengan pendapat, keyakinan bersinggungan dengan cara berfikir dan membuatnya nyata, konsentrasi memiliki kesinambungan dengan kondisi aktifitas gelombang otak yaitu Beta, Alfa, Theta dan Delta.
Menawarkan cara terbaik belajar lebih baik demi tercapainya jalur-jalur belajar dan kehidupan secara efektif dan efisien. Dan sebenarnya yang dialami oleh banyak pelajar adalah minimnya gaya belajar, ketidak fokusannya baik dari diri sendiri atau lingkungannya, atau dengan kecerdasannyapun tidak sadar.
Padahal kita sebenarnya memiliki gaya pembelajaran yang unik. Baik itu gaya visual, auditori atau kinestik. Setelahnya sejauh mana kita fokus. Kepada diri sendiri atau kepada orang lain. Reaksi yang ditimbulkan akan berhubungan dengan cara personal kita. Lalu mengetahui kecerdasan bagaimana yang kita miliki. Cerdas gambar. cerdas kata. cerdas sosial. cerdas musik, cerdas alam, cerdas kinestik atau cerdas diri, cerdas angka. Situasi itu yang sering tidak diketahui oleh siapapun.
Seharusnya kita harus mengetahui cara belajar dan adanya peningkatan kecerdasan telah lebih banyak membantu meraih kehidupan dan belajar lebih giat lagi. kita akan memperbaiki keterampilan belajar.
Keterampilan belajar adalah kegiatan utama seperti membaca, menulis, mempelajari, mengerjakan tes, mencatat, berpikir, dan menghafal (hal 60). Dimana kita akan mengetahui karakter kita terampil dalam hal yang sesungguhnya.
Jadi, membangun kerajaan bukan terjadi dengan sekejap mata. Dibutuhkan energi yang luarbiasa, mengendalikan perasaan, pikiran dan tindakan. Dan menjadi tanggungjawab diri kita. Sadar dengan segala tanggungjawab, kita perlu memiliki kunci kesempurnaan yaitu integritas, kegagalan mengarah pada kesuksesan, bicara dengan tujuan baik, fokus, komitmen, bertanggungjawab, fleksibel dan seimbang. Inilah ciri-ciri Quantum Learner bertanggungjawab atas hidupnya sendiri.
Kesuksesan Bobbi DePorter dengan karya-karya sebelumnya menarik untuk disimak setelah Quantum Learner, masih ada lima serial Quantum lainnya yaitu Quantum Reader, Quantum Writer, Quantum Memorizer, Quantum Thinker dan Quantum Note-Taker.
Buku Quantum Learner ini sangat cocok untuk jadi solusi bagi para siswa, mahasiswa, guru dan pemerhati pendidikan untuk memahami dan mengaplikasikan gaya belajar menjadi manusia kuantum.
Bisa kita katakan inilah buku bergizi di dunia pendidikan. Maka belajarlah arti nilai kehidupan sebagai pedoman dalam meraih impian belajar, dimana tersedia peta belajar yang sesungguhnya untuk pendidikan kita!

Meretas Phobia Menulis

Suatu tragedi yang menggelitik para civitas akademika baru-baru ini, mahasiswa tidak suka menulis dan mahasiswa lari dari kegiatan tulis-menulis. Bagi mahasiswa, sebenarnya menulis merupakan kewajiban yang tidak boleh dilepasnya. Mahasiswa wajib membaca buku-buku prinsip kuliah dan dituliskannya dalam sebuah buku. Memang itu yang seharusnya, menjadikan mahasiswa memiliki ideologi, perspektif baru, menambah perbendaharaan kata di setiap harinya.

Mahasiswa tidak mungkin mengaku diri pribadi dari civitas akademika, jika budaya menulisnya sudah sirna. Dan semua itu sangtlah menyedihkan, mestinya mahasiswa bisa produktif melakukan seni tulis-menulis. Agar isi kuliahnya tidak semata-mata datang, duduk, diam, dan pulang. Yang mengarah pada kecenderungan mahasiswa tidak mampu mengembangkan dirinya pada kegiatan secara lisan maupun tulisan.

Menulis tidak membutuhkan kecakapan yang serba kompleks. Menulis merupakan seni yang sesungguhnya dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. Bahkan lebih mudah daripada mendapatkan predikat kesarjanaan. Pun mahasiswa tidak mungkin duduk di bangku kuliah selain berpegang pada tulisan, dan mahasiswa juga harus membuat laporan perkuliahan, seperti membuat analisa dari jurnal, pembuatan makalah juga berangkat dari kegiatan penulisan.

Generasi mahasiswa yang lahir di era globalisasi mayoritas lebih senang mengikuti hegemoni kehidupan urban. Konsumtif, dan hidup di dunia hiburan, mall, café, dan selalu mengedepankan lifestyle ala urban. Belum lagi, tindakan anarkistis dalam demonstrasi yang marak dilakukan oleh mahasiswa. Yang kemudian, mengabaikan keinginannya untuk berpegang pada prinsip-prinsip seorang mahasiswa. Padahal, kegiatan sehari-hari dari mahasiswa tidak pernah lepas dari tulis-menulis.

Berbeda dengan generasi mahasiswa di era orde baru dan era reformasi, mereka menyuarakan suara seorang mahasiswa justru melewati kegiatan penulisan. Labelisasi mahasiswa sebagai agen of change merupakan sesuatu yang perlu diperjuangkan. Sosok mahasiswa seperti Gie, mahasiswa Universitas Indonesia adalah seorang mahasiswa yang memiliki naluri kepenulisan paling berkesan. Dia menggapai titik keemasan sebagai mahasiswa di masanya melalui peliputan peristiwa yang terjadi dan dituangkan dalam tulisan secara utuh. (komprehensif).

Perilaku dua generasi mahasiswa yang berbeda ini menunjukkan adanya kebutuhan khusus membongkar phobia seorang mahasiswa dalam kepenulisan. Bukan lagi pada pemberian metode-metode penulisan di setiap mata kuliah yang monoton dan tidak efesien, melainkan mengajak mahasiswa untuk mengimplementasikan budaya menulis dimanapun dan kapanpun.

Selama ini, yang sering ditemui adalah mahasiswa masih berpedoman pada cara-cara instan, copy paste tulisan dari internet, literatur buku, atau plagiasi dari tulisan orang lain. Bisa mendapat predikat sarjana tapi tidak bisa menulis, dan tidak memiliki soft skill yang mumpuni. Atau sekedar mengisi absensi lalu tidak mampu mengembangkan diri.

Bila diperhatikan seksama, banyaknya perguruan tinggi di Indonesia dan dijumlahkan dengan mahasiswa yang aktif menulis dan berprestasi dalam penulisan, seperti lolos seleksi (terpublikasi) di media massa, memenangi perlombaan karya tulis ilmiah, ternyata masih tergambar bentangan jarak yang sungguh amat jauh dari impian.

Produktivitas kepenulisan dari kalangan mahasiswa masih terbatas, sudut pandang mahasiswa untuk melakukan kegiatan tersebut sepertinya masih malu-malu. Bisanya mengeluhkan keadaan yang dibatasi oleh sekat-sekat yang tak menentu. Alasan-alasan pun keluar seribu jumlahnya. Sehingga mahasiswa tidak lagi memahami betapa pentingnya menulis dan betapa prestige-nya membudayakan menulis.

Di UIN Maliki, pemberdayaan mahasiswa untuk mencintai dan suka menulis juga minim dan belum maksimal. Tujuh ribuan mahasiswa yang aktif di perkuliahan, namun mahasiswa yang sungguh-sungguh menulis hanya satu banding lima puluh tiap mahasiswa. Gejala ini memang sudah diresahkan oleh kalangan mahasiswa penulis beberapa tahun yang lalu saat sarasehan Temu Penulis UIN Maliki yang diselenggarakan oleh Unit Penerbitan UIN Malang Press dalam rangka Dies Natalies ke-5 UIN Maliki bulan Juni 2009. Minat mahasiswa dan ghirah mahasiswa dalam kepenulisan belum melekat pada diri mahasiswa. Notabene mahasiswa masih melakoni tradisi kepenulisan apabila ada tugas dari dosen, dan ini sudah mendarah daging di pikiran masing-masing mahasiswa.

Rektor UIN Maliki, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo mengatakan bahwa jangan-jangan belum disadari bahwa tugas perguruan tinggi bukan saja mengantarkan mahasiswa jadi sarjana, melainkan dalam proses itu harus ada kegiatan pengembangan pemikiran, kajian mendalam dan penelitian. Hasilnya kemudian dirupakan dalam bentuk karya ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku.

Pramoedya Ananta Toer juga mengatakan bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Betapa abadinya menulis sampai Imam Al-Ghazali menyebutkan “Bila engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

Oleh karena itu, tradisi menulis di kalangan mahasiswa harus dipopulerkan, tidak semata mengembangkan saja, melainkan menjadikan mahasiswa mencintai kegiatan kepenulisan seutuhnya. Adapun pemberdayaannya, pertama, mengubah mainstream mahasiswa. Jika selama ini mahasiswa tidak suka menulis karena membayangkan bagaimana sulitnya menulis, maka paradigma tersebut harus diubah, mulai sekarang!

Kedua, dosen menjunjung tinggi mahasiswa berprestasi dalam tulis-menulis. Dosen-dosen pengampu mengajak setiap mahasiswa saling fastabiqul khoirot untuk menulis di media massa. Sehingga ada rasa optimisme mahasiswa untuk berkompetisi dalam kepenulisan. Ketiga, birokrasi kampus mengajarkan dan mengapresiasi mahasiswanya yang berprestasi di bidang kepenulisan dengan mengagendakan penganugrahan mahasiswa yang produktif menulis di media massa tiap tahunnya agar mahasiswa yang lain termotivasi untuk lebih giat menulis.

Jika tiga pemberdayaan ini diaplikasikan maka akan terjadi peledakan mahasiswa penulis yang begitu besar di UIN Maliki khususnya. Karena itu, upaya ini perlu ada tanggapan dan pemahaman yang selaras dari pihak-pihak yang bersangkutan, baik dari mahasiswa, dosen, stakeholder lainnya. Agar kualitas mahasiswa dengan menulis meningkat, dan writing culture ala Prof. Imam dapat memberikan sumbangan nyata bagi mahasiswa dan dosen-dosen pengampu dalam pengembangannya keilmuan di masa yang akan datang.

Seperti Hernowo bilang, tulislah secara spontan dengan menggunakan kata ganti orang pertama, “Aku…” lantas mengalirlah. Maka jangan bilang mahasiswa bisa menulis kalau belum pernah praktek menulis dengan istiqomah. Mari generasi mahasiswa untuk tidak phobia menulis lagi, lagi dan lagi. (*)

Finalis Lomba Cipta Puisi Nasional 2010

Matahari di Sungai Chao Phraya

di sungai Chao Phraya aku temukan Venesia
yang menjadi sebongkah cerita untuk hidangan bersama
ketika berlayar dengan perahu
aku seperti mengintip ibu kota yang penuh riuh rindu
dan tidak pernah habis disampaikan kepada para turis

sepanjang bengawan Chao Phraya
banyak gedung berjajar di tepi dan melukiskan pesona kota ini

menyusuri bengawan Chao Phraya
seperti tenggelam dalam gelombang dan melihat megahnya tiang-tiang

matahari menemaniku di sungai Chao Phraya
di perahu kuberteman karyawan berdasi, mahasiswa, dan mbak rok mini

tidak ada jarak ketika aku di perahu
semuanya menggenggam mimpi dan mengejar waktu
sambil memegang ponsel berkirim kabar ke muasal rindu
dan aku mendapat ketenangan di Phra Buddhasaiyas
tempat berteduhnya kalbu seiring berputarnya arus di perahu

Malang, 2010

Rahasia Dahsyat Shalat Sunnah


Judul Buku : Dahsyatnya Shalat Sunnah

Penulis : Maulana Ahmad

Penerbit : Pustaka Marwa

Cetakan : I, 2010

Tebal : 167 Halaman



Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, bahkan acapkali kita dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti jodoh, pekerjaan, pendidikan dan lain-lain. Jika mengikuti ambisinya, keinginan manusia selalu ada dan tidak terbatas.
Mulai dari keinginan yang dibutuhkan menyangkut dirinya sampai kepada keinginan yang dibutuhkan menyangkut sebuah negara. Bagi yang beriman, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan tersebut, tidak serta merta selalu ditempuh melalui jalan usaha secara praktis belaka.
Ketika merasakan hal semacam itu dan membuat kita kebingungan, tentunya kita perlu mencari sebuah jalan yang mampu menggugah kita untuk menentukan pilihan. Sementara itu, problematika yang sering kita alami di kehidupan kita seringkali sulit menemukan jalan keluarnya. Apalagi di zaman sekarang ini, semakin kompleksnya permasalahan hidup.
Sebagai orang yang beriman, problematika hidup kita tidak serta merta kita lepas begitu saja. Sebab Allah Swt Maha Mendengar, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pada saat itulah kita memohon kepada Allah Swt agar dimudahkan dan diberi jalan keluar atas segala problematika yang sedang kita hadapi.
Di masa-masa genting ini pula kita harus menegakkan shalat-shalat sunnah. Shalat sunnah sungguh memiliki keistimewaan tersendiri sebab shalat sunnah mampu menjadi solusi di dalam memecahkan semua permasalahan untuk hamba Allah Swt yang beriman.
Dalam buku Dahsyatnya Shalat Sunnah karya Maulana Ahmad mendefinisikan shalat sebagai jalan keluar bagi mereka yang memiliki kesulitan dan kebutuhan, juga sebagai media dimana seorang hamba mengadukan segala persoalan hidup yang dihadapinya. Karena dengan shalat sunnah seseorang mampu mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Pengasih, Allah Swt.
Buku ini menyingkap rahasia kepada kita betapa dahsyatnya shalat sunnah. Ada empat shalat sunnah yang dibahas dalam buku ini. Pertama, Shalat Tahajjud. Shalat sunnah tahajjud termasuk shalat sunnah muakad (shalat sunnah yang dikuatkan oleh syara’). Shalat tahajjud atau shalat malam adalah suatu bentuk amal yang senantiasa dijadikan amalan wirid oleh Rasulullah Saw, para sahabat, ulama dan shalihin.
Bilangan rakkat shalat tahajjud sedikitnya dua rakaat dan banyaknya tidak terbatas, Dengan syarat sesudah bangun tidur di waktu malam, walaupun tidurnya itu dalam waktu sebentar. Jika dikerjakan tanpa tidur di waktu malam, maka tidak bisa dikatakan shalat tahajjud. Akan tetapi dinamakan sebagai shalat sunnah biasa.
Untuk mendirikan shalat tahajjud, sebaiknya kita harus mengetahui akan waktu yang paling utama untuk mendirikan shalat tahajjud. Ada tiga waktu dalam melaksanakan shalat tahajjud. Sangat utama pada sepertiga pertama, waktunya shalat Isya’ sampai jam sepuluh malam. Lebih utama pada sepertiga kedua, pada jam sepuluh sampai jam satu malam. Paling utama sepertiga ketiga, yaitu pada jam satu malam sampai masuknya waktu shalat Shubuh.
Kedua, Shalat Hajat. Pada hakikatnya shalat hajat sebagai media ibadah kepada Allah Swt ketika kita mempunyai keperluan di dalam urusan duniawi maupun ukhrawi agar supaya dikabulkan. Shalat hajat dapat dilakukan pada siang hari maupun malam hari.
Seusai shalat hajat, kita dianjurkan untuk berwirid agar hajat terkabul. Wirid khusus agar segera memperoleh pekerjaan atau rezeki, melembutkan hati orang, memperoleh dan mempertahankan jabatan dan beberapa hajat khusus lainnya.
Ketiga, Shalat Istikharah. Shalat istikharah kita jalankan untuk memohon petunjuk dari Allah Swt, dengan diberi tanda-tanda atau alamat atau pun isyarat untuk ditunjukkan segera pilihan yang terbaik di antara dua hal yang belum dapat ditentukan baik buruknya oleh kita.
Waktu menunaikan shalat istikharah sama halnya dengan shalat tahajjud dan shalat hajat yang dilakukan di malam hari. Walhasil, kita benar-benar memperoleh isyarat kemantapan hati untuk menentukan pilihan.
Keempat, Shalat Dhuha. Siapapun yang melaksanakan shalat Dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah Swt, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan (HR Turmudzi). Imam Syaukani pun menerangkan suatu hadis bahwa dua rakaat shalat Dhuha dapat menggantikan 360 kali sedekah. Shalat Dhuha juga diselarasakan dengan permohonan akan limpahan anugerah rezeki yang halal, mendapatkan rezeki dari setiap penjuru, memohon tambahan rezeki, atau kedudukan yang baik.
Terpenting dari shalat sunnah adalah kita mengharapkan segala permasalahan hidup dapat kita tuntaskan. Melalui shalat sunnah itu pula kita semakin meyakini bahwa Allah Swt Maha Mendengar kepada setiap hamba-hamba-Nya yang sedang menempuh cita-cita, kebutuhan atau permasalahan, menghadapi kegalauan hidup, memohon rezeki hingga ampunan dari Allah Swt.
Maulana Ahmad meyakinkan kita bahwa shalat sunnah begitu dahsyat dan memiliki keistimewaan yang seringkali kita tidak pernah menemukannya. Dilengkapi dengan tuntunan shalat disertai doa-doa pilihan, buku ini sangat bermanfaat dan cocok untuk kita yang awam tentang seluk beluk shalat sunnah. Selamat membaca!

TAKJIL: Wahana Suburkan Ukhuwah Iqthishodiyah

Bulan suci ramadan melahirkan berjuta keberkahan. Pada bulan yang amat dinanti seluruh kaum muslimin seluruh dunia itu, banyak diadakan kegiatan digelar, mulai dari berbuka dan terawih bersama, tadarus hingga ada sebagian pihak yang memanfaatkan momentum itu mengais rezeki dan mendapat penghasilan tambahan. Biasanya pihak-pihak yang terlibat didominasi oleh golongan anak muda yang masih duduk perkuliahan. Tak ayal Ramadan seakan menjadi katalisator bagi bermunculannya generasi-generasi wiraswasta instan.
Wiraswasta instan ini umumnya beromzet kantong pas-pasam. Meskipun berbekal bonek (bondo nekat) alias tanpa persiapan, bukan berarti semangat enterpreneurship yang mereka usung melempem. Buktinya di sepanjang trotoar jalanan umum, kawanan wiraswasta instan itu berjejal mengambil peluang dalam menawarkan komoditas jajanan mereka mulai dari es cendol, kolak, cilok dan sebagainya. Entah dari mana resep itu mereka dapatkan, tetapi yang pasti bagi wiraswasta instan apalagi yang berasal dari mahasiswa jurusan ekonomi, inilah saatnya untuk mengaplikasikan ilmu perekonomian yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan secara langsung di alam riil.
Cara kerja mereka boleh dibilang sederhana atau lebih tepat dikatakan serabutan Biasanya mereka berasal dari beberapa kelompok, yang kemudian mengumpulkan modal bersama, dengan tujuan ingin mencari pengalaman, mempelajari strategi bisnis, meminimalisir kejenuhan, mereka mencerburkan diri ke dalam bisnis ini. Di dalam Islam, antara takjil dan berwirausaha sebenarnya telah tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, hal itu terlihat seperti dalam firman Allah SWT di surat Ibrahim ayat 31, yang menerangkan bahwa “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”.
Dapat diintasarikan bahwa sesungguhnya berwirausaha dengan membuka lapangan perekonomian secara islami dengan produk “takjil” di bulan suci ramadhan, pun dapat disadari akan menumbuhkan ghiroh atau semangat ber-ukhuwah iqthishodiyah, yang nantinya bisa melakukan silaturrahim antar sesama kaum muslimin dalam mengukuhkan naluri fitrahnya sebagai hamba Allah SWT.
Karena itu, Islam telah memberikan kejelasan di dalam firman Allah SWT seperti yang disebutkan di atas. Sehubungan dengan mahasiswa yang berwiraswasta secara instan dengan menjajakan takjil untuk berbuka puasa, perlu adanya membumikan dirinya dengan menjunjung nilai-nilai keislaman. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan yang membimbing seluruh ummat muslimin untuk belajar dan melakukan tradisi keislaman yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sesungguhnya bulan suci Ramadhan, dapat dimiliki oleh siapapun. Begitu juga mahasiswa yang menginginkan ikut bersumbangsih diri untuk meramaikan indahnya bulan penuh berkah sambil menjual takjil.
Akhirnya, semoga dengan terbukanya lembaran bulan ramadhan 1430 H ini dapat menumbuhkan antusiasme kaum muslimin ataupun mahasiswa untuk selalu berusaha untuk berwirausaha islami dengan menjadikan hidup penuh manfaat dan menyempurnakan iman di hati masing-masing. (*)

sumber;

http://www.koranpendidikan.com/

Nominasi Lomba Penulisan Essai Pesta Anak Rantau 2010 yang diselenggarakan IKAMI (Ikatan Keluarga Mahasiswa/Pelajar) Sulsel Cabang Malang 

STATUS PERANTAUAN

Sebagai mahasiswa rantau, yang menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat di rumah. Sebaiknya, ketika mengarungi dunia perantauan harus penuh tekad dan keinginan yang kuat mendapat ilmu bermanfaat untuk masyarakat kelak. Setali tiga uang, masyarakat mengukur warganya yang merantau dengan materi. Kesuksesan mendapat pekerjaan adalah tolak ukur bagi mahasiswa yang merantau. Jika tidak demikian, maka mahasiswa itu divonis gagal merantau.

Tidak mengherankan jika masih ada mahasiswa yang malu-malu pulang ke tanah kelahiran bila dihadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya belum memperoleh apa yang diharapkan masyarakat. Lalu mahasiswa itu memilih bermukim lama-lama di tanah perantauan demi menghindari kejaran pertanyaan tentang dirinya yang masih pengangguran.

Yang paling sering dipertanyakan dengan mahasiswa rantau sewaktu pulang adalah apa di sana tidak ada yang memberimu pekerjaan? Kenapa engkau tidak mencari lowongan pekerjaan? Apa tidak malu dengan laki-laki lain yang lulusan SMA?

Tekanan (pressure) hebat kepada mahasiswa rantau patut diperhatikan. Masyarakat sering meletakkan mahasiswa perantau menjadi bahan obrolan, bahkan nge-gosip berjamaah karena mahasiswa perantauan tidak mampu membawa prestasi cemerlang seperti yang diharapkan. Belum lagi, tetangga lainnya menanyakan perihal keberadaan dirinya sampai kapan di perantauan.

Di desa saya pun demikian, anak laki-laki yang menimba ilmu ke kota lain dan ketika pulang akan selalu ditanya berbagai macam persoalan. Mayoritas masyarakat di desa saya menganggap kalau anak laki-laki yang merantau tidak lain menuntut ilmu dan bekerja. Nah, di samping itu, mereka anggap anak laki-laki yang pulang kembali ke tanah kelahiran akan membawa harta dan segala hal yang tidak pernah dimiliki oleh masyarakat. Pola pikir itu melekat di pikiran masyarakat di desa saya sampai kapanpun.

Di pikiran masyarakat sudah jelas, jika kemudian anak laki-laki itu kaya raya dan sukses di perantauan akan diibaratkan sebagai pahlawan pemberi kesejahteraan kepada tetangga, masyarakat terkena dampak cahaya kebahagiaan. Sebaliknya, anak laki-laki di perantauan yang tidak berubah nasibnya menjadi musuh dan dikucilkan dari kehidupan.

Kenapa Harus Merantau?

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di surat An-Nisaa, Allah swt telah memuliakan hamba-Nya yang merantau (hijrah). Setiap hamba Allah di muka dunia harus merantau melakukan pencarian rezeki di jalan Allah dan Rasul-Nya. Dengan itu, pahala di sisi Allah akan selalu ada pada mereka yang merantau. Dahsyatnya merantau sampai Allah berfirman di kitab suci al-qur’an al karim. Di samping itu, pemaknaan merantau sejatinya didekatkan dengan dunia kerohanian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebab, persepsi keliru masyarakat terhadap anak laki-laki yang merantau sudah kian terus terjadi sepanjang kehidupan. Diyakini penyebabnya di antaranya adalah faktor sikap praduga masyarakat yang berlebihan dan diyakini masih mengikat pada tradisi leluhur nenek moyang. Sikap praduga itu sebenarnya positif. Namun kecenderungan menyuarakan keburukan dari para perantau yang menjadikan sikap praduga tersebut seperti ghibah dan berdampak negatif.

Maka perlu ada pemahaman yang menyeluruh kepada masyarakat. Tidak semua yang merantau akan kaya dan tidak semua yang kaya dari merantau. Kaya-miskin bukan ujung dari perantauan. Melainkan perantauan dikaitkan dengan makna hijrah yang eksklusif.

Arti Sebuah Perjalanan

Jika ada kalimat terindah yang patut diucapkan maka itulah pemaknaan yang sebenarnya pada arti sebuah perjalanan. Perjalanan seorang anak laki-laki yang merantau lalu mendapat kebahagiaan jasmani rohani. Akhirnya memiliki percaya diri (confidence)untuk menapak tilasi kehidupan selanjutnya.

Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk status para perantau agar bisa dirindukan oleh masyarakatnya. Pertama, bersosialisasi sebelum berangkat. Mungkin jauh lebih utama (afdhal) ketika kita hendak meninggalkan tanah kelahiran sebaiknya meminta restu dan doa kepada masyarakat sekitar agar senantiasa diberi keselamatan di perantauan.

Kedua, niatkan untuk beribadah. Setiap perjalanan yang diniatkan untuk ibadah kepada Allah merupakan hal yang barakah. Dan perjalanan tersebut akan mendatangkan perlindungan dari Allah.

Ketiga, tetap ingat tanah kelahiran. Walaupun nun jauh di perantauan, kita harus mengingat tanah kelahiran agar tidak takabbur dan sombong ketika nanti harus kembali ke tanah kelahiran.

Dengan cara di atas, masyarakat akan memaknai status perantauan menjadi rindu yang terlahir dari lubuk hati. Rindu yang tak pernah lekang kepada anak laki-laki di perantauan ini.

Malang, 2010

sumber dari ; http://catatan-perantau.blogspot.com/2010/04/pengumuman-pemenang-kompetisi-essay_30.html

Pengalaman dari Anugerah Sastra

Ada hal yang paling berkesan ketika saya mengikuti Launching Buku dan Penganugerahan Lomba Cipta Cerpen, Esai dan Puisi Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia di STAIN Purwokerto Kerjasama LPM Obsesi dan DeMa STAIN Purwokerto tanggal 9-10 Maret 2010 yang lalu. Sebagai salah satu finalis dari UIN Maliki Malang, Zulfa dari Universitas Brawijaya, dan Royyan Julian dari Universitas Negeri Malang (UM).

Berangkat dari Malang dengan kereta Gajayana hari Senin (8/3) sekitar jam 16.25 WIB. Perjalanan begitu menyenangkan. Hampir subuh saya dan teman-teman dari Universitas di seantero Indonesia saling mengucapkan salam jumpa. Salam kesejahteraan untuk mengawali hari-hari yang penuh dengan keceriaan. Teman-teman dari UPI Bandung, UHAMKA Depok, IAIN Walisongo Semarang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UNS Surakarta, IAIN Imam Bonjol Padang dan lain-lainnya.

Setibanya di STAIN Purwokerto, Selasa 9 Maret 2010, saya mengikuti Launching Antologi Puisi “Menolak Lupa” bersama dengan narasumber Evi Idawati (Novelis, Cerpenis, Sastrawan, Artis) dan Abdul Wachid B.S (Penyair, Dosen, Sastrawan). Walaupun kampus beda, tapi saya seolah mengenal teman-teman dari kampus lainnya seperti teman-teman kecil saya sendiri.

Mbak Evi, begitu sebutan akrabnya. Mengatakan bagaimanapun juga menulis puisi bukan hanya wahana ekspresi tetapi juga sebuah cara berkomunikasi untuk memberitahukan pada dunia apa yang telah ditemukan dalam proses panjang pengendapan dan pemahaman menjalani kehidupan.

Betapa senangnya bila bertemu penulis yang berlabel mahasiswa tapi berprestasi luar biasa. Dan kala siang, dilanjutkan dengan Launching Antologi Cerpen “Bukan Perempuan” yang dipandu juga oleh Mas Achid, sapaan akrab Mas Abdul Wachid B.S dan kedatangan Joni Ariadinata, sebagai Cerpenis dan Redaktur Pelaksana Majalah Sastra Horison, Jakarta.

Pertemuan yang membahagiakan untuk saya. Mas Joni mengobarkan semangat penulis –penulis muda agar kuat menggali kreativitas dan imajinasi yang membentuk karakternya dalam bertutur cerita pendek. Menurut Mas Joni cerita-cerita pendek yang tersebar luas di media-media lokal dan nasional sudah kehilangan karakter dan imajinasi, hingga tak lebih dari keringnya bahasa, pendeknya cara berfikir.

Rabu 10 Maret 2010, saya mengikuti Launching Antologi Esai “Islam dan Terorisme” dengan narasumber Dr. Zuli Qodir (Dosen PPs UGM). Membincang terorisme lewat esai-esai teman-teman seperti sepotong pizza yang enak untuk disantap.

Setelah mengikuti kegiatan launching tersebut, saya dan teman-teman berwisata ke Baturraden. Salah satu wisata khas Purwokerto.

Dan di malam penganugerahan saya mendapat pelajaran begitu berharga bahwa menulis merupakan aktivitas paling mulia. Dengan berkarya maka tulisan-tulisan yang sudah kita hasilkan akan abadi. Berkaryalah maka kamu akan abadi, begitu temanya.

Beruntung saya dipertemukan dengan kegiatan ini. Bertukar ide, sharing perjalanan kepenulisan. Kapan, dimana awal mula saya menulis? Bagaimana agar bisa eksis menulis? Semua yang berkenaan dengan kepenulisan selalu dibincangkan. Inilah momentum penulis “mahasiswa”. Mahasiswa tidak hanya dianggap anarkis tapi mahasiswa juga berprestasi dalam bidang tulis menulis. (*)

sumber; http://www.surya.co.id/2010/03/31/pengalaman-dari-anugerah-sastra.html

Dua Pengusaha Berbagi Cerita

Mungkin banyak orang menganggap kalau ilmu seorang pengusaha hanya didapat kalau kita menjadi orang terdekatnya. Pengusaha pelit membagi ilmunya. Anggapan itu salah besar, karena saya membuktikan bahwa pengusaha dimanapun akan selalu terbuka jika diajak sharing tentang pengalamannya selama berwirausaha.
Ada dua pengusaha yang membuat saya termotivasi ingin menjadi pengusaha, yaitu Dr AB Susanto (Founder The Jakarta Consultan, Entrepreneurship, Penulis 40 Buku tentang Manajemen dan Kewirausahaan) dan Juniardi, SH (The Best Motivator Indonesia, Presiden KBPI, Entrepreneurship, Ketua Inkubator Indonesia).
Dua pengusaha ini hadir dalam acara Seminar Nasional Leadpreneurship dengan tema “Pendekatan Manajemen Kepimpinan dalam Meningkatkan Profesionalitas Entrepreneur Berdaya Saing Global” di Gedung Pertemuan Lantai 5 Rektorat UIN Maliki Malang. Jum’at (21/5). Saya banyak mendapat ilmu dari kedua pengusaha tersebut.
Seperti yang disebutkan oleh Pak Jun, sapaan akrab Juniardi, ketika menceritakan kisah awal menjalani usaha sampai sukses sekarang. “Pengalaman saya membangun usaha, ya dimulai dari saya sendiri. Sebagai sarjana hukum, saya tidak minder berwirausaha karena saya memang ingin menjadi wirausahawan sukses. Yang saya lakukan, action, action dan action, itu saja intinya.”
Sedangkan Dr AB Susanto membukakan paradigma saya, betapa Indonesia kering wirausahawan. Karena menurut Ciputra Indonesia membutuhkan setidaknya dua persen penduduknya menjadi wirausahawan untuk menopang kemajuan ekonomi. Padahal saat ini hanya terdapat sekitar 0,8 persen penduduk Indonesia yang menjadi wirausahawan. Kitalah wirausahawan Indonesia berikutnya, yang menjadi bagian dari penggerak kemajuan perekonomian Indonesia.
Atmosfer di dalam ruangan begitu riuh dengan semangat para peserta. Di termin tanya jawab, antusiasme peserta semakin bergairah. Mereka banyak bertanya tentang kiat-kiat kedua pengusaha tersebut menggapai kesuksesannya. Ada juga yang bertanya tentang kondisi kasus Gayus yang masih hangat diperbincangkan di banyak media.
Betapa senangnya ketika Pak Jun membocorkan faktor kesuksesan seorang pengusaha. Pak Jun menuturkan jika yang di ruangan ini ingin sukses, kuncinya adalah ingat Allah, menggali informasi sebanyak mungkin, memakai kepintarannya, berpikir inovatif, kreatif dan intuitif, terakhir bersedekah. “Insya Allah kalian akan jadi pengusaha sukses,” katanya.
Ratusan peserta yang hadir saat itu terdiri dari praktisi usaha, Guru SMK, SMA, MA se-Malang Raya, Mahasiswa Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Program yang diselenggarakan atas kerja sama Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UIN Maliki dengan Penerbit Erlangga dan Esensi Erlangga Group ini cukup sukses. Terlihat dari banyaknya peserta dan semangat mereka yang tak habis sampai acara seminar selesai.
Sekaligus meyakinkan bahwa mahasiswa masa depan adalah mahasiswa yang berparadigma wirausaha dan yang mampu mengelola dirinya sebagaimana pengusaha mengelola usahanya sampai menjadi sukses sedemikian rupa. (*)
sumber dari http://www.surya.co.id/2010/06/01/dua-pengusaha-berbagi-cerita.html

Bukan Gula Bukan Semut (Membangun Gula Sebagai Komoditi Kompetitif bagi Indonesia Pasca ACFTA)

Suatu hari, Ibu Aisyah pergi ke pasar untuk membeli sembako buat kebutuhan sehari-hari keluarga. Di pasar, Ibu Aisyah ingin berbelanja sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Seperti beras, sayur-sayuran, minyak, gula, dan sembako lainnya.
Ketika itu, Ibu Aisyah telah membeli semua kebutuhan sehari-hari keluarga tapi ada yang tidak terbeli yaitu gula. Ibu Aisyah tidak bisa membeli gula di pasar sewaktu itu.
Sesampainya di rumah, suami Ibu Aisyah pun bertanya “Kenapa untuk membeli gula saja tidak bisa? Padahal tidak ada masalah dengan harga gula?”
“Bukan gitu, Pak! Harga gula sekarang mahal. Per kilogram saja 10.500 rupiah, tidak mungkin Ibu membeli gula sementara kebutuhan yang lainnya belum terbeli. Jadinya Ibu tunda saja dulu. Kurang tahu sampai kapan!” tutur Ibu Aisyah.
***
Saya berpikir, pemerintah atau stakeholder yang seharusnya mendistribusikan gula dan memberikan harga pasaran gula dengan harga yang sesuai justru diketahui telah menimbun gula entah kemana. Dengan itu, semakin meyakinkan saya bahwa kelangkaan gula bukan disebabkan oleh siapapun terkecuali orang-orang yang ingin mencari keuntungan secara pribadi. Ulah para distributor gula di pelbagai antarprovinsi seperti semut-semut nakal. Yang merasa bahwa gula dikelola untuk dinikmati semata-mata mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Keberadaan gula dijadikan sebuah komoditi yang menghasilkan kekayaan masing-masing tidak untuk kepentingan masyarakat yang semestinya.
Saya yakin, ketika kongkalikong di dalam penggelapan gula digalakkan sebenarnya telah menyengsarakan bangsa Indonesia sendiri. Terutama bagi mereka yang berpenghasilan kecil dan menengah. Dan stakeholder yang berperan perihal gula ini telah menata diri untuk membikin masyarakat kelimpungan. Sehingga membuat masyarakat lebih terabaikan.
Pergerakan harga gula yang terus meningkat dari awal tahun 2010 sungguh telah mempengaruhi pola konsumsi sehari-hari. Penggunaan gula dikurangi. Survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada 3 Mareti 2010 bahwasanya 71,8 persen responden mengatakan bahwa harga gula sudah tidak lagi terjangkau dan mempengaruhi konsumsi gula sehari-hari. Karena gula menjadi salah satu komoditi yang paling dibutuhkan sehari-hari. Tentunya kenaikan harga gula berdampak negatif terhadap psikologis masyarakat. Masyarakat mengurangi konsumsi gula, masyarakat menghemat pembiayaan pada gula.
Sementara itu, ada kemungkinan bentuk-bentuk mafia gula terjadi. Sebab ketika ditimbun pun tidak banyak yang mengetahui kemana gula itu beredar dan dibawa kemana. Dapat kita saksikan bahwa pemerintah provinsi Jawa Timur tidak mengetahui secara pasti kemana 49.000 ton gula yang hilang dari gudang-gudang dalam delapan hari terakhir (Kompas, 08/1/2010). Sedangkan gula impor perlahan-lahan menaikkan harga gula di pasaran.
Jelas, ketika mafia gula merajalela dan terus menerus meneror kehidupan sehari-hari kita dalam mengonsumsi. Yang lagi-lagi bersamaan dengan mencuatnya isu KKN global pada perekonomian Indonesia akhir-akhir ini. Hal ini membuktikan bahwa dengan munculnya fenomena krisis gula terjadi di Indonesia mengakibatkan konsumsi gula sehari-hari terganggu secara serius.
Yang menjadikan emosional saya secara tiba-tiba: apakah masyarakat miskin akan selalu dibiarkan mengonsumsi harga gula mahal sementara pemerintah abai terhadap kondisi mereka? Yang jelas, hari ini kita perlu mempertegas diri dan mengatakan bahwa musuh utama kita yakni mafia gula dan sikap abai pemerintah terhadap kebijakan harga gula di pasar.
Oleh karena itu, yang paling mendasar problematika ini disebabkan karena carut marutnya manajemen Dinas Perindustrian dan Perdagangan antarprovinsi di seluruh Indonesia di dalam mendistribusikan gula serta kurang mengontrol stok gula di gudang. Lebih-lebih ketiadaan profesionalisme kinerja dalam mencegah adanya gula impor tanpa memprioritaskan pada gula lokal di bawah manajemen yang efektif dan efisien.
Dengan demikian, perlu ada resutrukturisasi terhadap manajemen Dinas Perindustrian dan Perdagangan antarkabupaten/kota dan antarprovinsi. Terutama di masing-masing distributor besar gula. Harga gula harus ada keterbukaan, tidak menaikkan harga gula secara sepihak. Distributor gula harus mengetahui dampak manfaat dan mashlahah terhadap masyarakat daripada mementingkan kekayaan pribadi, yang sebentar saja bisa memperkaya diri tapi ketika tertangkap tindak pidana korupsi maka penjara adalah ganjaran dan dosanya terhadap bangsa dan negara terabadikan dalam tinta hitam sejarah negeri Indonesia. Perlunya tanggungjawab dan transparansi terhadap harga gula harus menjadi bagian dari restrukturisasi manajemen dan distributor gula agar supaya komoditi gula mampu membangun komoditi yang kompetitif pasca ACFTA (Asean-China Free Trade Agreement).
***
Dan beberapa bulan kemudian, ketika Ibu Aisyah pergi ke pasar sebagaimana untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Ibu Aisyah berbelanja dengan hati riang. Sumringah dan begitu cinta.
Ibu Aisyah sudah bisa membeli seluruh kebutuhan keluarga. Ada beras, sayur-sayuran, minyak, gula dan sembako lainnya. Ibu Aisyah mampu membeli gula dengan harga eceran murah karena gula lokal. Sebab ini ditimbulkan oleh adanya restrukturisasi manajemen dan distributor gula yang terjalin dengan pengembangan sebaik mungkin.
Ibu Aisyah datang. Suami Ibu Aisyah pun takjub melihat Ibu Aisyah yang tersenyum sendiri. Seperti menyunggingkan senyum kepada matahari di pagi hari. “Kok Ibu senyum-senyum sendiri, ada apa ya?” Tanya suami Ibu Aisyah.
“Jelaslah Pak! Ibu sudah bisa membeli gula untuk konsumsi, harga gula sekarang lebih murah dari bulan-bulan yang lalu. Ibu senang. Akhirnya Ibu bisa membuat kue kesukaan Bapak.” Jawab Ibu Aisyah sambil berlalu ke dapur.
Akankah kebahagiaan Ibu Aisyah dapat dimiliki oleh masyarakat lainnya? Sebab bukan gula bukan semut yang memberi kesejahteraan untuk kita. Tapi kebijakan pemerintah terhadap gula yang berpihak kepada masyarakat yang turut senantiasa menggerakkan perekonomian pada negeri Indonesia ini. (*)

Senin, 26 April 2010

Bidadari Terakhir

Rembulan masih berdiri kokoh di langit. Bintang-gemintang pun menebar senyum ke jalan-jalan. Seperti ada keceriaan malam ini. Begitu juga Sri, perempuan yang sedang menunggu suaminya datang membawakan kabar gembira. Atau menanti kebahagiaan dari lelaki yang menjadi pujaan segera pulang.
Sudah dua bulan kabar ini ditunggu-tunggu Sri. Sebab Sri telah lama tidak mendapati suaminya. Sri tidak merasakan kehangatan di malam-malamnya sampai harus sendiri dalam keheningan. Menyepi dalam kamar lalu tertidur pulas.
Dan setiap hari pun Sri berdoa agar suaminya bisa segera menjaganya. Yang memberinya kasih sayang, cinta dan perhatian. Karena itu Sri selalu menyebut nama suaminya dalam tidur atau dalam rakaat yang dihadapkan kepada sang khaliq.
Sri pun ingat bahwa lelaki yang dinikahinya adalah lelaki yang setia. Tidak pernah tinggalkan tanggungjawab.
“Apa kau akan selalu setia kepadaku?” Tanya Sri dengan mendekap suaminya erat-erat.
“Iya, aku pasti setia.” Jawab lelaki berkumis tebal. Suami Sri.
Kata-kata itu yang selalu terngiang-ngiang di pikiran Sri. Hatinya berbunga-bunga. Meski tiada kesepian yang membuat diri senang. Tapi Sri masih terobati oleh kalung yang melingkar di lehernya. Ada gambar Sri dan suaminya. Sri menciumnya setiap kali mau tidur dan itu yang telah menghibur dirinya kalau sedang kangen.
Perempuan seperti Sri terlalu tangguh menjaga keimanannya. Juga menjaga cinta yang telah dibangun dengan ketulusan. Walaupun ada kerikil yang mengganggu, tetaplah Sri menjadi perempuan yang tidak mudah goyang oleh gelimang lelaki lain yang mengejarnya.
Sebagaimana janji yang diucapkan berdua, demi menjalin keharmonisan maka kesetiaan akan selalu menjadi yang terdepan. Biarpun jarak memutus keutuhan badan. Sri mampu membendung lelaki lain yang mencoba hinggap ke hatinya. Tiada yang pernah sekuat dan setegar ini selain Sri.
Di rumah yang isinya hanya Sri dan anak perempuannya, Sri menghidupkan hari-harinya dengan mengasuh anak, menghantarnya ke sekolah, mencukupi kebutuhan sendiri dan anak. Bila malam jum’at datang, Sri pergi ke masjid lalu membaca tahlil untuk orangtua, mengaji ayat suci. Setelah itu, mengirimkan doa keselamatan kepada suami.
Sri menunggu suaminya datang di depan pintu rumah. Ia membuka jendela, menyiapkan minuman kesukaan suami, teh manis dan pisang goreng. Dan Sri menyuruh anaknya untuk memakai pakaian rapi. Sebab ayahnya akan datang, kembali ke rumah dengan membawa hadiah.
“Pakai yang ini, Nak! Kamu terlihat lebih cantik,” ujar Sri. Anaknya mengangguk tanda menerima pilihan baju dari Sri.
“Ayah seperti aku ‘kan, Bu?” Tanya anaknya dengan memandang Sri. Sri tersenyum.
“Kamu mirip ayahmu. Ibu bangga melahirkanmu.”
Waktu menunjukkan angka sembilan malam. Di rumah Sri sudah banyak keluarga yang hendak menyambut kedatangan suaminya. Sri terharu. Suaminya dikenang oleh orang-orang.
Mata Sri berbinar-binar. Sesekali ia mencium anaknya yang sedang dalam gendongannya. Merasa ada yang dinanti-nanti dan baru menjejakkan kaki di rumah sendiri. Serasa tidak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.
“Kau telah ditunggu oleh orang banyak. Cepatlah pulang!” ungkap Sri dalam hati. Saking menggebu-gebunya Sri merapikan ruang tamu dengan hiasan meriah. Seperti sang pujangga mempersiapkan segala sesuatu dengan baik ketika hendak bertemu dengan pujaan hati.
“Aku tidak pernah sebahagia ini menunggumu, sayang.” Bisik Sri memandangi foto pernikahannya.
Kalau saja foto itu bisa berucap, maka Sri akan mencurahkan kebahagiaan yang sedang dialaminya. Begitu juga dinding putih rumahnya. Sri, perempuan yang setia menunggu suaminya kembali ke rumah.
Sejak suaminya menerima tawaran menjadi tenaga kerja kasar pembangunan di luar negeri. Otomatis segala sesuatunya terpisahkan. Apapun yang menjadi kegelisahan hanya bisa ditumpahkan di saat ponselnya berdering dan ucapan sayang suami terdengar sayup-sayup di telinga.
“Aku baik-baik saja di sini. Kau jaga kesehatan ya, anak kita merindukanmu.” Bibir Sri terbata-bata mengucapkan kalimat itu.
Dulu, Sri tak bisa merelakan kepergian suami. Sri tak mengizinkan suami jauh darinya, sementara anaknya mulai tumbuh besar. Sedangkan kebutuhan pokok melilit diri Sri sampai tak kuasa tutup lobang ke sana kemari.
“Meskipun aku jauh, ini demi anak kita!”
“Tapi bagaimana denganku?”
“Aku tetap menyayangimu dan kaulah bidadari terakhirku.” Pelukan suami kepada Sri justru meluluhkannya.
Sri melihat anaknya yang tertidur pulas. Hingga Sri harus melepaskan suami kerja dan jauh dari keluarga. Ini ujian yang sungguh berat bagi Sri. Tidak jarang cibiran silih berganti mencecar dirinya.
Perempuan yang ditinggal suami akan selalu mencari lelaki dan berkhianat dengan sebuah janji. Bukan hanya cibiran tapi juga makian bertubi-tubi merasuk ke dalam hati Sri.
“Udahlah Sri, suamimu juga pasti memiliki perempuan lain di sana. Kau jangan percaya lelaki. Seperti suamiku yang menikah lagi,” curhat Bu Fani, tetangga desa.
“Benar Bu Sri. Cowokku saja belum lama merantau, tiba-tiba kudengar ia mempunyai dua istri dan satu pacar. Aku tertipu janji manis. Mungkin Bu Sri harus mikir juga, gak mungkin suaminya ibu setia beneran sama ibu.” Sambung Rasti, perempuan paruh baya yang merasa tertipu oleh lelaki yang dicintainya.
“Dia berbeda. Dia sempurna buatku. Aku berdoa dia juga akan setia.” Jawab Sri lalu meninggalkan pergumulan mereka di warung.
Sri tabah. Sri mendengar tapi Sri tetap sabar. Sri lebih percaya kepada suaminya daripada omongan ibu-ibu tetangga yang berkoar-koar. Ini karena ucapan janji setia saling percaya.
Inilah cinta. Biarpun ada gelombang cinta Sri mampu bertahan. Tidak mudah memegang teguh kepercayaan bertahun-tahun. Lewat diri Sri cinta dapat diperjuangkan. Mungkin begitulah kira-kira cinta melebihi segalanya.
Malam mulai menjulang. Sebentar lagi subuh berkumandang. Sri mendendangkan lagu cinta. Sementara orang-orang sudah pulang karena larut malam. Sri masih mengungkap segenap kerinduan dan rasa yang terbantahkan. Tanpa terasa Sri meneteskan airmata.
Di altar rumah yang sesak dengan penantian. Sri mematikan lampu di setiap ruang. Sedangkan suaminya belum juga mau memunculkan bayang-bayang. Sri hendak gusar tapi ia menahan. Sri mengeratkan kedua tangan. Lalu menengadah ke langit sambil memanjatkan doa persembahan.
Sri terduduk di altar rumah. memandang jauh ke arah pematang. Pengharapan yang selalu dinanti lama tiba-tiba mengusik diamnya.
“Sri, hari ini kau dapat surat. Namanya Taufan Anjasmara. Nama suamimu ‘kan?” tanya Pak Pos. “Benar. Itu nama suamiku.” Deg. Dada Sri berdegup kencang.
Sri belum berlalu dari bayang wajah lelaki yang lima tahun telah menikahinya. Bagi Sri, surat ini adalah ungkapan yang memecahkan kalbunya. Yang tidak pernah ada dalam kamus kehidupannya.
Cerita tentang kebahagiaan terbalas dengan api bara. Di mata Sri ada luka yang menganga seperti pijaran larva gunung. Teringat di saat yang sama, mengenggam tangan lelaki itu sampai tak mampu untuk dilepas. Namun kini hatinya terlanjur mengeras. Surat itu jawaban bagi Sri yang menunggu lelaki yang berstatus suami.
Suami Sri memilih perempuan lagi. Lelaki itu menyudahi rindu Sri dengan kehadiran perempuan di sampingnya sehari-hari. Meskipun di akhir kalimat dalam surat tertuliskan, Aku tetap menyayangimu dan kaulah bidadari terakhirku, Sri.
Malang, 2010

Sabtu, 13 Maret 2010

Jangan Kau Larang Aku

jangan melarang aku terjun ke duniamu

walaupun aku terjerumus ke lubang yang tabu

bersikaplah seolah aku sahabatmu

dan aku memuliakan martabatmu

aku bilang, jangan melarang

kenapa kamu panggil aku dalang

aku bukan wayangmu

tak perlu melarangku dan tersedu-sedu

karena aku hanya seorang pemburu

dan mangsaku hanya larik-larik pada secarik kertas abu-abu

kalau kau melarangku

semua orang akan tahu perlawananmu

meskipun kau lebih elegan dari pembantu

ini wilayahku dan kau melarangku

kau menculik mimpiku yang aku buat tahun lalu

yang pernah tersimpan di dalam jiwaku

kau menuduhku dan pelan-pelan membunuhku

semestinya aku tak membangunkanmu

dari persoalan yang mengalihkan kesadaranmu

daripada kau merampas hak asasiku

biarkan aku menjadi manusia baru

di antara pasar, masjid, televisi, telepon dan remang-remang lampu

Malang, 2010