Rabu, 16 Juni 2010

Perempuan Joget Hutan

Gong! Gong! Gong!

Perempuan-perempuan ayu menari anggun di tengah petak pasar malam. Perempuan-perempuan itu begitu gemulai tubuhnya. Ketipak kakinya tak terdengar kasar, meski terkadang dihentakkan di lantai. Mereka berada dalam posisi yang bagus. Harum kemenyan menebar semerbak di sekitar arena.

Para penonton memadati pasar malam. Mereka datang di malam yang ranum. Mata mereka nyalang tak merasa kantuk. Desa itu tiba-tiba saja dihinggapi rasa haus akan hiburan. Permainan Joget Hutan telah memecah kebosanan warga desa pada suasana malam yang selalu hening dan sunyi. Pasang mata para penonton khusyuk memandangi tarian elok nan indah para perempuan yang dihiasi selendang warna-warni.

Tingkah suara gendang yang mendayu-dayu dan diiringi lagu dendang Melayu Tanjung Katung1 mulai terasa akrab di telinga para penonton.

Seorang pawang atau kemantan maju ke arena dengan mendaki tangga kecil sembari mulutnya komat-kamit membaca mantra-mantra dan mendongak ke langit sesekali. Sang pawang melepas selendang masing-masing perempuan, dari mulutnya keluar air liur dan ditadahnya dengan selendang itu, kemudian ia memasangkannya kembali kepada masing-masing perempuan Joget Hutan. Pada langkahnya yang terakhir ia memecut pantat para perempuan bergantian. Para penonton menganga tak tahu maksud yang dilakukan oleh sang pawang. Suara tetabuhan gong mengelilingi arena begitu nyaring.

Gong! Gong! Gong!

Sang pawang meninggalkan arena. Para perempuan mulai tampil dengan matang. Gemulai tubuhnya mulai menari dengan memadukan suara gendang yang bertalu semakin kencang, juga lagu yang dibawa oleh biduan cantik membawa para penonton mengikuti irama dengan berjoget bersama. Joget Hutan di pasar malam itu menjadi sorotan para penonton. Tempat itu cukup padat. Irama yang menghiasinya seakan telah menciptakan suasana decak kagum di hati penonton. Inoi, salah satu dari perempuan Joget Hutan yang hadir bergoyang di tengah arena itu, kini menjadi sorotan penonton.

Mula-mula gerakan tarian Inoi begitu kaku, meski gerakan tarian yang dibawa para perempuan Joget Hutan sedari tadi begitu seragam dan serempak. Goyangan tubuh, arah, lenggak-lenggok, serta tempo kaki mereka seragam dan tertata rapi. Tapi lama-lama mereka tidak kompak dan tidak seragam. Sedikit demi sedikit tarian mereka menjadi sendiri-sendiri, sedang para penonton mulai mengarahkan matanya lekat ke tubuh perempuan muda berselendang biru itu. Penonton tahu bahwa gerakan tubuh, wajah dan tangan lentik Inoi semakin ndadi alias kesurupan. Inoi menari dengan tarian Mayang Di Umbut2. Tarian itu bukan sembarang tarian, sebab Inoi menarikan tarian itu dengan bantuan roh gaib. Sehingga, Inoi menarikannya berbeda dengan perempuan yang lain, dan dengan sendiri tubuh Inoi mengikuti irama tabuhan gendang gong. Mata Inoi memerah. Bau kemenyan semakin merebak, menusuk-nusuk hidung penonton. Penonton terpana dengan tarian Inoi. Tetabuhan gong dan beberapa gamelan lainnya menjelma riuh menembus kagum para penonton.

Apakah itu anakmu, Mak?” tanya seorang lelaki dengan menunjuk telunjuk kanan ke arah Inoi.

Emak tersenyum malu, meski Emak sedikit sadar bahwa sekarang anaknya telah menjadi barang berharga yang dipertontonkan. Di sekeliling lelaki itu, beberapa penonton mengangguk dan sepertinya menggelengkan kepala beberapa saat.

Seandainya ia anakku, mungkin aku sudah memiliki uang banyak dan cepat kaya,” seru lelaki lain sembari melirik ke wajah Emak yang mulai murung, kelu.

Tapi, Emak juga tersenyum sebentar. Ia mengerti, ia salah bila harus menonton anaknya di arena yang penuh gaduh ini, padahal ia tak sengaja melihat pentas demikian. Ini adalah sebuah kebetulan. Emak tak tahu harus bagaimana, sudah sekitar sembilan bulan Inoi bergabung dengan grup Joget Hutan di desanya. Joget Hutan telah melambungkan namanya. Inoi dikenal dengan goyangan dan liukan tubuh manisnya.

Gong! Gong! Gong!

Daripada ganggur, Mak!” ujar Inoi pelan.

Membantu Emak kan bisa, atau bermain dengan teman sebayamu,” jawab Emak pelan juga.

Tidak enak, Mak!”

Jadi perempuan Joget Hutan, berbahaya, anakku! Dapat merusak nama keluarga kita. Setiap hari Emak selalu mendengar omongan yang jelek-jelek saja tentangmu.”

Biarkanlah mereka, Mak! Memang hidup di zaman yang serba susah selalu salah. Jika Inoi harus bermain terus dengan teman-teman, kapan Inoi akan masuk sekolah lagi?” tutur Inoi yang berangan ingin masuk sekolah kembali.

Tujuan hidup Inoi terhenti ketika ia harus menderita penyakit kronis. Tapi dokter tidak menceritakannya terus terang kepada Inoi, melainkan hanya kepada emak dan bapaknya. Sehingga keesokan harinya, bapak Inoi memutuskan bahwa Inoi tidak boleh masuk sekolah dan harus berhenti sekolah seketika itu juga.

Inoi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia patuh pada keputusan bapaknya, menerima pasrah semua yang diputuskannya. Walaupun tangis Inoi hendak membuncah, Inoi tetap patuh tunduk pada bapaknya.

Inoi terbayang pada masa kecilnya dahulu. Ia begitu semangat ingin masuk sekolah. Ia merengek-rengek nangis bila tidak langsung sekolah. Bapak dan emak Inoi menyetujuinya untuk menyekolahkan Inoi ke sekolah dasar. Inoi pun selalu mendapatkan nilai terbaik dan selalu berada di peringkat pertama. Bapak dan emaknya bangga, hingga bapaknya berjanji akan menaruh Inoi pada sekolah yang lebih tinggi lagi setelah lulus sekolah dasar nanti.

Inoi bahagia. Tawanya merekah dan Inoi memeluk bapak dan emaknya bergantian. Secuil bahagia mengekal di kalbu emak Inoi, dan semakin tak terbendung tangisnya. Terharu.

Setelah malam mingguan, terkadang di sekolah, teman-teman Inoi ada yang bercerita tentang pentas kesenian panggung bangsawan yang mementaskan lakon Lancang Kuning, yaitu sebuah lakon sejarah yang paling populer di kota Bengkalis, Riau. Juga ada yang bercerita tentang lincahnya penari tarian Zapin3 yang menarikan zapin anak ayam patah.

Mulai besok, Inoi tidak boleh lagi masuk sekolah!” tegas bapaknya di hadapan Inoi.

Kenapa Pak?” Tanya heran Inoi yang menunduk sedih.

Karena Bapak memintamu untuk berhenti sekolah. Ingat! Bapak sudah mendapatkan surat keputusan pemberhentian kamu dari sekolah,” seru bapaknya sembari menaruh SK pemberhentian sekolah Inoi di meja. Inoi termenung, diam. Pasrah.

Gong! Gong! Gong!

Tak ada yang tahu ke mana arah angin akan berhembus. Di tengah arena, para perempuan mengipas-ngipas wajahnya dengan selendangnya sendiri-sendiri. Peluh mereka mengucur deras, sedang malam menemani bintang yang mengerlip terang. Inoi mendekati sang pawang. Sang pawang memberi kemenyan di pelupuk kepalanya. Tangan sang pawang memukul tubuh Inoi beberapa kali dengan mayang juga bunga pohon pinang. Inoi tersentak dan kejang-kejang sebentar. Inoi kembali ke tengah arena. Matanya memerah padam. Goyangan tubuhnya menggila, semakin erotis hingga jantung lelaki berdetak lebih cepat. Berdebar-debar.

Tiba-tiba ada lelaki berkumis memasuki arena, perut buncitnya bergoyang, badannya sempoyongan sepertinya ia mabuk berat sehabis menenggak minuman keras. Langkahnya tersaruk-saruk mendekati gemulai tubuh Inoi. Dengan sekejap, lelaki itu berada di depan Inoi. Ia menari seadanya, membelai-belai tubuh Inoi. Tetapi Inoi juga bergairah meraba-raba tubuh lelaki itu.

Gong! Gong! Gong!

Mak! Anakmu melakukan sesuatu yang tidak wajar,” cibir salah satu penonton di dekat Emak. Emak malahan menutup muka tak ingin melihat tingkah anaknya.

Inoi meliuk-liukkan tubuhnya ke tubuh lelaki itu, namun di balik senyumnya yang merekah, Inoi menggenggam sebilah pisau runcing di tangan yang diselipkan di balik bajunya. Sedetik kemudian, Inoi mengayunkannya ke arah perut buncit lelaki itu. Suara erangan mendesau parau. Darah segar merembes di arena.

Malam semakin mencekam, penonton banyak menjerit ngeri. Petugas pun datang segera menolong lelaki itu yang mengerang kesakitan. Inoi menjilati darah segar si lelaki di sekitar pisau runcingnya. Tangannya juga penuh dengan darah. Inoi meneguk darah itu. Benar. Inoi telah meminum darah segar itu.

Emak belum sempat menyaksikan tingkah Inoi, tapi di hatinya terasa perih. Lelaki yang hendak dibunuh Inoi itu ternyata tetangga dekat Inoi sendiri. Emak merasa telah menelantarkan diri Inoi sebagai anak yang dicintainya, tapi kini Inoi telah berubah menjadi perempuan penari yang dibayar dengan sesajen dan mantra-mantra hingga menjelma seketika di arena.

Rasa perih hati Emak semakin menggumpal saat Inoi meneguk darah segar manusia yang disodorkan sang kemantan itu. Emak menangis ringkih. Rasa kasihan pada anaknya menyeruak. Ruas pojok mata Emak menjadi basah. Emak berusaha keras menahan airmatanya hingga dadanya saja yang pecah.

Andaikata kamu masih sekolah, mungkin tidak seperti ini, anakku,” tutur Emak terbata.

Malam kian ramai dengan permainan Joget Hutan. Anak-anak, pemuda yang menonton saat itu mulai binger ingin lama-lama di pasar malam. Tiba-tiba Emak teringat pada saat suaminya memberhentikan Inoi dari sekolah dasar, padahal keinginan Inoi begitu tinggi untuk selalu sekolah karena kehidupan keluarganya saat itu cukup untuk membiayai sekolah Inoi. Tapi waktu berbicara lain. Suaminya memberhentikan Inoi dengan paksa, setelah dokter memvonis Inoi mempunyai penyakit kronis.

Anak Bapak menderita penyakit langka dan kedokteran rumah sakit di sini tidak sanggup mengobatinya, melainkan harus pindah ke rumah sakit lain dan itu membutuhkan biaya besar!” terang dokter kepada bapak Inoi.

Dok, saya enggak ingin jika anak saya harus berhenti sekolah cuma karena penyakit yang dideritanya. Apakah Dokter tidak bisa menyembuhkannya?” bapak Inoi tidak percaya pada keterangan dokter tersebut. Si dokter menggelengkan kepala. Bapak Inoi pun seperti itu. Segala usaha telah dilakukan bapak dan emak Inoi untuk menyembuhkan penyakit Inoi dengan selalu pergi dan pindah-pindah rumah sakit, namun hasilnya nihil. Emak Inoi mulai meneteskan airmatanya tiap malam. Memandangi anaknya yang ayu sedang pulas tertidur di kamar. Begitu berat perasaan Emak memanggul kekalutan pada keluarganya.

Tak lama meniti hari dengan kabut, suaminya dipanggil Tuhan selama-lamanya lebih cepat dari dugaan. Padahal, suaminya masih terlalu muda. Inoi pun harus hidup dengan memikul tanggungjawab yang berat karena sulitnya mencari nafkah untuk keluarga. Akibatnya, Inoi tidak bisa sekolah lagi. Hingga pada senja yang menjorok ke barat, matahari belum sepenuhnya tenggelam, Emak menandatangani kontrak penjualan perempuan seusia Inoi kepada seorang lelaki tambun yang mengaku utusan negara berkedok mencari bakat semisal emansipasi Kartini. Emak Inoi hanya manggut-manggut sembari tersenyum, berbunga hatinya mendapatkan uang banyak dengan hanya tanda tangan pada secarik kertas. Tetapi, kebahagiaan itu hanya sementara, pada waktu yang sama, dokter itu asyik menghitung uang setelah memanipulasi semua keterangan tentang penyakit Inoi.

Gong! Gong! Gong!

Kini Inoi menjadi penari sekaligus perempuan Joget Hutan yang diidamkan setiap lelaki. Menurut cerita rakyat di desa, perempuan Joget Hutan sebenarnya berasal dari suku asli yang populer dengan sebutan suku terasing dan pemusiknya, pemukul gong, arkoden, biola, gitar, gendang, dan bas besar berasal dari tempat terpencil yang tradisional pula. Suku terasing yang memang asli tinggal di perkampungan pinggir hutan.

Dan sekarang Inoi bukan perempuan yang dapat merasakan indahnya sekolah, tetapi Inoi adalah perempuan yang menari di arena. Inoi telah dewasa dan terdaftar sebagai penari Joget Hutan berbakat di desanya.

Sementara itu, di pasar malam suasana mulai kacau. Mata para penonton miris melihat Inoi di atas arena tanpa busana hanya celana rumbai yang dipakainya dan selendang biru yang masih melekat di tubuhnya sembari bersenandung lagu joget. Sang kemantan menghampirinya dengan menyodorkan bangkai-bangkai hewan sebagai sesajen penutup sebelum bubar pasar malam. Inoi terlihat lahap memakan bangkai-bangkai itu. Emak Inoi menangis miris di antara himpitan para penonton yang memadati pasar malam. Tak ada yang mendengar erangnya. Tak ada orang yang peduli akan tangisnya.

Gong! Gong! Gong!

Suara itu menyilet ketenangan malam. Bintang-gemintang meredup. Bulan enggan muncul. Gerimis membasahi ruas pasar malam. Permainan Joget Hutan telah menorehkan luka yang dalam di hati Emak.


Sanggar, 17 Juni 2006


Catatan:


Salah satu dendang Melayu yang populer dalam adat Betawi

2Tarian khas di Bengkalis, Riau, dilakukan dengan bantuan roh halus sebagai perantara

3Tarian khas di Bengkalis, Riau, dipentaskan di pagelaran kebudayaan atau kesenian daerah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar